AWAL MULA BERDIRINYA HMI KUKAR
AWAL MULA BERDIRINYA HMI CABANG KUKAR
sumber: kanda ufqil mubin
Pada 1990, HMI Cabang Samarinda mencapai tahap perkembangan yang cukup signifikan. Tak heran, terjadi proses kaderisasi yang cukup masif. Khusus rekrutmen anggota lewat latihan dasar (basic training), sebagian besar komisariat berlomba-lomba merekrut peserta dalam jumlah besar.
Sehingga, setiap kali training dilaksanakan, terdapat puluhan peserta yang ikut melahap ilmu pengetahuan dalam latihan dasar sebagai syarat menjadi anggota HMI tersebut.
Di tahun yang sama pula, Komisariat Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda sebagai bagian dari HMI Cabang Samarinda melaksanakan basic training di Dusun Merandai, Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan, Kutai--sekarang Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim).
Salamat Said Sanib mengungapkan, pelaksanaan kaderisasi di lokasi tersebut mempunyai tiga alasan: pertama, sebagai bagian dari panitia, steering committe, Salamet memiliki rumah di Dusun Loa Duri. Karena itu, mudah baginya untuk memobilisasi dan menyiapkan pelaksanaan kegiatan tersebut.
Kedua, pada umumnya kegiatan yang dilaksanakan HMI di tingkat komisariat HMI Cabang Samarinda jarang dilaksanakan di perkotaan. Panitia lebih senang mencari lokasi yang jauh dari perkotaan. Sehingga tidak mengagetkan, kegiatan basic training itu diselenggarakan di Desa Merandai. Wilayah yang jaraknya lebih kurang 15 kilometer dari ibu kota provinsi.
“Kami lebih senang buat acara yang jauh dari pusat kota,” Salamet berkisah, “Kadang kegiatan diadakan di Loa Buah, Palaran, atau Tenggarong Seberang. Dulu kegiatan itu sangat ekonomis. Karena di kampung, panitia tinggal beradaptasi dengan warga sekitar. Panitia dengan mudah mendapatkan sayur-sayuran. Alumni juga ikut membantu. Walaupun besarannya hitungan rupiah, itu sangat membantu. Ada yang membantu beras dan lauk-pauk. Sehingga latihan berjalan atas solidaritas dan kesederhanaan.”
Ketiga, di Dusun Merandai, penduduk muslim tergolong minoritas. Di lokasi tersebut, penduduk lebih banyak menganut agama Kristen--baik Protestan maupun Katholik. Informasi yang didapatkan panitia basic training, pengajaran agama Islam di daerah setempat tidak berjalan maksimal.
Karena dipengaruhi komunikasi lintas agama, dominasi penganut agama Kristen jauh lebih besar dibandingkan pemeluk agama Islam. Pun demikian dengan proses pengajaran, pemahaman, dan pengembangan ajaran di tengah umat, nyaris warga setempat tidak mendapat asupan keilmuan dalam bidang agama Islam.
Lalu bagaimana akhirnya peserta dari Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) dapat ikut serta dalam basic training tersebut? Ekspansi pengkaderan memang sedang berlangsung di HMI Cabang Samarinda kala organisasi itu memasuki usia kematangan sejak dibentuk pada 17 Juli 1963.
Namun demikian, beberapa sumber informasi menyatakan, perluasan rekrutmen di beragam wilayah di Benua Etam--sebutan untuk Kaltim--tidak berarti dengan mudah dilakukan oleh panitia latihan serta pengurus cabang dan komisariat.
Begitu juga dengan rekrutmen anggota yang berasal dari Unikarta. Beberapa kali dilaksanakan basic training, panitia pernah meminta pimpinan universitas, agar mendelegasikan peserta. Namun tak kunjung ada rekomendasi peserta dari universitas yang didirikan pada 1985 tersebut.
Saat HMI Komisariat Tarbiyah Cabang Samarinda memiliki kesempatan untuk menyelenggarakan kegiatan di Dusun Merandai, bermodal keberanian, panitia meminta bantuan dana pada pemerintah Kabupaten Kutai. Kala itu, Kutai dipimpin Said Sjafran. Oleh sang bupati, panitia dibantu pendanaan Rp 500 ribu.
Nilai yang terbilang besar pada tahun 1990. Tidak hanya membantu dari segi keuangan, Pemerintah Kabupaten Kutai juga ikut membuka basic training. Bupati mengutus Kepala Kantor Bidang Sosial Politik (Kakansospol), Mahlan, untuk membuka kegiatan tersebut.
“Latihan dasar waktu itu dilaksanakan di Sekolah Dasar Kutai Baru. Kepala sekolahnya pak Baharuddin. Lokasinya cukup berkualitas. Peserta tidak mudah pulang. Kalau mau pulang, harus nyebrang sungai. Itu tidak mudah. Sehingga peserta yang lebih dari 50 orang itu tidak ada satu pun yang pulang. Semuanya lulus menjadi anggota HMI,” ungkap Salamet, Selasa (14/8/2018)
Pada saat yang bersamaan pula, panitia menyampaikan surat permohonan rekomendasi peserta dari Unikarta. Tak disangka, tiga orang ikut menjadi peserta dalam latihan tersebut.
Mereka adalah Rahmawati, Suroto, dan Sopiar. Peserta yang ikut dalam kegiatan basic training ini mencapai 50 orang. Training diadakan selama empat hari. Mulai Kamis hingga Ahad. Ketiganya lulus dengan predikat yang memuaskan. Sehingga ditasbihkan sebagai anggota HMI Komisariat Persiapan Unikarta.
Sebagaimana umumnya pelaksanaan basic training, kegiatan yang diselenggarakan di Dusun Merandai itu meninggalkan begitu banyak kenangan. Selamat ingat betul, terdapat peserta yang bernama Asgaf--sekarang salah satu lurah di Kota Bontang.
Kala menjadi peserta latihan dasar, Asgaf terjatuh di Sungai Mahakam. Di bagian kakinya terdapat luka. Sehingga memakai tongkat. Satu waktu, pria kelahiran Selili Samarinda itu membuat para panitia dan peserta kaget. Saat di sungai, orang-orang mengira dia tidak dapat berenang. Namun ternyata Asgaf membuktikan dapat berenang dan selamat dari maut.
Dari proses rekrutmen dan kaderisasi yang sederhana itu pula lahir begitu banyak kader yang menopang pengembangan himpunan. Rahmawati, Soroto, dan Sopiar adalah sedikit dari kader-kader berkualitas yang meniti karir di HMI.
Ketiganya saling menopang dengan kaki, tangan, dan jiwa untuk membesarkan HMI Komisariat Persiapan Unikarta. Dari ketiganya pula, hingga saat ini, organisasi yang menghimpun mahasiswa muslim dari beragam status sosial, budaya, dan ekonomi itu dikader, dididik, dan ditata mentalitasnya.


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda