Kamis, 17 Juni 2021

BAGIAN SEJARAH HMI KUKAR: HMI DI TUDUH UNDERBOW PARTAI POLITIK

 


sumber: kanda ufqil mubin

HMI DI TUDUH UNDERBOW PARTAI POLITIK

Pemilihan umum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) pada 9 Juni 1992 telah menempatkan Golongan Karya (Golkar) pada puncak kekuasaan di parlemen. Dari 400 kursi yang diperebutkan, sebanyak 282 di antaranya diraih organisasi pendukung Soeharto itu. Sedangkan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hanya meraih 62 kursi dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) berada di urutan terbawah dengan perolehan 56 kursi. Alhasil, kekuasaan di legislatif dikendalikan Golkar. Secara otomatis pula, pemilihan presiden yang diadakan di parlemen dapat dengan mudah dimenangkan Soeharto. Maka tidak heran, selama 32 tahun berkuasa, Pemilu 1992 adalah masa-masa keemasan kekuasaan mantan jendral TNI itu.
Dalam beragam catatan sejarah disebutkan bahwa Soeharto telah membangun kekuasaan absolut dengan menggunakan tameng demokrasi. Di eksekutif, legislatif, dan yudikatif, cakar-cakar kekuasaan dari penguasa Indonesia kelahiran 8 Juni 1921 itu telah menyentuh sampai level terbawah. Di tingkat eksekutif, mayoritas kepala desa tunduk di bawah kuasa Golkar. Orang-orang yang secara terang-terangan berseberangan dengan Soeharto dianggap sebagai musuh yang tak sedikit diberangus dengan kekerasan dan pembunuhan. Kekuasaan jendral yang populer dengan sebutan the smiling general itu tidak hanya dibangun melalui sistem, tetapi juga dibentuk dengan simbol, kesenian, hingga kebudayaan. Sejak 1965 hingga 1997, nyaris tidak ada satu pun di negeri ini yang luput dari kekuasaannya.
Pada 1993, empat tahun sebelum presiden yang menggantikan Sukarno itu jatuh dari tampuk kekuasaannya, lini kehidupan sosial-politik-budaya-pendidikan telah dicengkeram kaki-tangannya. Tak mengagetkan pula, Budiman Sujatmiko dalam buku Anak-Anak Revolusi yang ditulisnya, power yang dibangun Soeharto selama 32 tahun membentuk dirinya sebagai penguasa absolut yang mengatur seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tak terkecuali pula di kampus. Tidak sedikit tokoh-tokoh kampus yang berafiliasi secara langsung atau tidak langsung dengan presiden yang meninggal pada 27 Januari 2008 itu. Kampus-kampus besar seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, hingga Institut Teknologi Bandung menjadi medan produksi tokoh yang menopang kekuasaannya. Kampus di luar Jawa juga tidak lepas dari jangkauan kekuasaan dari anak Sukirah dan Kertosudiro itu. Pendiri HMI Kukar, Sopiar menyebut, pada 1992 di Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) terdapat pejabat, dosen, dan mahasiswa yang berafiliasi dengan Golkar.
“Kampus Unikarta itu memang pada awalnya didirikan oleh orang-orang Golkar,” ungkap Sopiar, “Waktu itu di kampus ada organisasi Kosgoro (Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong). Itu organisasi masyarakat underbow-nya Golkar. Kalau di kampus, ada namanya Gema (Gerakan Mahasiswa) Kosgoro. Warna bendera mereka kuning. Tiba-tiba ada organisasi yang memiliki bendera hijau hitam, dipersepsikan sebagai organisasi yang berafiliasi dengan PPP.”
Kehadiran HMI di Kampus Ungu itu dianggap berlawanan dengan misi Golkar yang ingin menguasai kampus melalui Gema Kosgoro. Pentolan organisasi di bawah naungan Golkar itu menganggap HMI sebagai kepanjangan tangan dari PPP. Para tokoh HMI di awal pendiriannya seperti Suroto dan Sopiar pernah dipanggil Pembantu Rektor III Unikarta, Galib. Pemanggilan tersebut dilakukan setelah pejabat kampus itu mendapat laporan bahwa HMI memiliki hubungan keorganisasian dengan PPP.
“Beliau memanggil kami berdua. Mempertanyakan apa itu HMI. Di antara pertanyaan beliau, apakah HMI itu bagian dari PPP? Karena mereka agak sedikit apriori dengan PPP. Warna bendera HMI itu hijau hitam. Jadi dikonotasikan berkaitan dengan PPP,” kenang Sopiar.
Kedua tokoh HMI itu berhasil meyakinkan insinyur di bidang pertanian tersebut. Keyakinan bahwa HMI tidak berafiliasi dengan partai berlambang ka’bah itu muncul setelah Sopiar dan Suroto menyerahkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi mahasiswa berbasis Islam yang didirikan pada 5 Februari 1947 itu.
“Kami berhasil menjelaskan bahwa HMI itu betul-betul organisasi mahasiswa yang independen. Tidak berafiliasi dengan salah satu partai politik. Walaupun warna bendera organisasi hijau hitam, bukan berarti itu memiliki keterkaitan dengan PPP. Kalau bapak tidak percaya, nanti kami buktikan dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi kami,” demikian Sopiar mengisahkan momen pertemuan dengan Ir. Galib.
Meski berhasil meyakinkan pembantu rektor di bagian kemahasiswaan itu, kader-kader HMI masih terus mendapat penolakan dari Gema Kosgoro. Penyebabnya, timbul rasa iri dari pentolan organisasi sayap Golkar itu dalam rekrutmen mahasiswa. HMI dianggap telah merebut mahasiswa-mahasiswa potensial. Selain itu, masifnya pergerakan kader-kader hijau hitam di generasi awal membuat sebagian pengurus Gema Kosgoro ikut serta dalam basic training dan menjadi bagian dari pengurus organisasi yang didirikan Lafran Pane itu.
Marwan, Ika Tatiana, dan Dedi Sudarya adalah sebagian dari kader Gema Kosgoro yang akhirnya memilih menyeberang ke HMI. Karena itu pula secara perlahan, peran HMI mulai menggeliat di kampus. Dari segi strategi pengembangan organisasi, Rahmawati, Sopiar, dan Suroto tidak pernah mengambil sikap perlawanan dari sekian banyak upaya pengurus Gema Kosgoro yang ingin menjatuhkan HMI. Justru sebaliknya, HMI berusaha membangun relasi positif dengan tokoh-tokoh organisasi sayap Golkar yang didirikan pada 10 November 1957 itu.
Salah satu kelemahan mendasar Gema Kosgoro adalah tidak melakukan perkaderan. Sehingga sebagian besar pengurusnya tergolong mahasiswa semester akhir. Tidak ada penyegaran di tubuh organisasi dengan cara menghadirkan generasi baru dari kalangan mahasiswa. Celah tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh kader-kader HMI untuk melebarkan sayap di beragam fakultas di Unikarta.
“Kaderisasi Gema Kosgoro di kampus itu sangat lemah. Mereka tidak membentuk komisariat-komisariat di fakultas. Kalau HMI itu ada komisariat-komisariat yang mewakili fakultas. Tetapi kami tidak mau bertentangan dengan mereka. Kami tetap berteman. Pelan-pelan mereka mengerti bahwa HMI hanya organisasi perkaderan,” beber Sopiar.
Pada 1993 hingga 1994, HMI dan Gema Kosgoro sudah layaknya saudara. Tidak ada lagi friksi bak di awal-awal kemunculan HMI pada 1991. Bahkan tali persaudaraan HMI dengan pentolan organisasi itu semakin menguat dengan munculnya dukungan dari tokoh-tokoh sentral Gema Kosgoro. Para dosen yang awalnya tidak simpatik dengan kehadiran HMI mulai membuka diri dan memberikan panggung pengkaderan pada organisasi yang menghimpun mahasiswa Islam itu.
Hal itu terjadi karena beberapa alasan. Pertama, intensitas kegiatan keislaman dan kemahasiswaan HMI di kampus. Rahmawati, Sopiar, dan Suroto acap kali menggunakan momentum salat dzuhur berjemaah untuk membangun persaudaraan dan memperlihatkan spirit keislaman di kalangan mahasiswa.
Kedua, dukungan alumni seperti Aswin dan Arifin Mas’ud. Dosen yang berasal dari alumnus HMI tersebut secara terang-terangan mendukung pergerakan kader-kader organisasi berlambang hijau hitam tersebut. Bahkan membuka celah perekrutan mahasiswa baru di sejumlah fakultas di Unikarta.
Ketiga, para kader dan pendiri HMI Cabang Kukar waktu masih menjadi Komisariat Unikarta, kerap menggunakan momentum hari-hari besar Islam untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan. Beberapa kali diadakan peringatan maulid Nabi Muhammad Saw di sejumlah masjid di Kota Tenggarong, kader-kader HMI ikut menjadi panitia dan membantu menyiapkan kegiatan.
Ketiga, membangun tradisi membaca dan diskusi. Masih lekat dalam ingatan Sopiar, papan tulis di markas HMI di kediaman Suroto di Jalan Imam Bonjol Tenggarong, jarang dibersihkan karena acap kali ada presentasi dan diskusi harian. Setiap ada buku baru yang dibeli oleh kader, dibedah dan dibahas secara bersama-sama di sekretariat komisariat. Tradisi tersebut membentuk kekayaan khasanah keilmuan dalam diri kader HMI. Imbasnya, mahasiswa yang tergabung di organisasi yang didirikan di Yogyakarta itu memiliki kekhasan tersendiri di kalangan mahasiswa di Unikarta.
Beragam keunggulan tersebut membuka jalan bagi kader-kader HMI untuk terus mengembangkan sayap keorganisasian. Dalam tempo dua tahun, telah berdiri HMI Komisariat Fakultas Pertanian, Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Komisariat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Pada 1993 terbentuk Koordinator Komisariat (Korkom) Unikarta yang membawahi tiga komisariat tersebut. Secara perlahan, dalam kurun waktu tiga tahun, HMI berubah menjadi sentral pergerakan mahasiswa yang kelak menjadi wadah terciptanya benih-benih perlawanan terhadap Soeharto.

klarifikasi oleh kanda nala arung/dedi sudarya:

Pada paragraf 11 tulisan diatas, terdapat keterangan bahwa Dedi Sudarya merupakan kader Gema Kosgoro yang berpindah ke HMI.
Berdasarkan keterangan tsb saya sampaikan klarifikasi bahwa saya tidak pernah terdaftar/
mendaftarkan diri menjadi salah satu kader Gema Kosgoro bahkan hingga saat ini. Saya terdaftar sebagai mahasiswa Fak. Ekonomi Unikarta tahun 1994 dan bergabung di Basic Training Komisariat Ekonomi HMI tahun 1996. Sebelum itu, saya tidak pernah bergabung dengan organisasi mahasiswa/sosial politik manapun. HMI adalah organisasi pertama yang saya masuki setelah masuk kuliah.
Adapun keterlibatan saya dengan organisasi sosial politik diluar HMI baru berlangsung pada tahun 2003, ketika dipilih menjadi Ketua Umum AMPG Kukar, yaitu 2 tahun setelah menyelesaikan tugas selaku Ketua Umum HMI Cab. Tenggarong.
Sejauh yang bisa saya ingat, hanya Bang
Marwan  yang sering mengikuti kegiatan Gema Kosgoro pada saat itu. Saya tidak bisa memastikan apakah beliau merupakan anggota terdaftar dari organisasi Kosgoro, yang jelas seragam Gema Kosgoro milik beliau dulu sering diletakkan di lemari pakaian HMI Cabang. Bisa dimaklumi, karena Bang Marwan mungkin tengah memperdalam ilmu manajemen keorganisasian kepada Bang Ibran Nuryadi, alumni HMI yang saat itu menjadi salah satu pengurus Kosgoro.
Demikian klarifikasi ini disampaikan agar tidak terjadi distorsi faktual dalam naskah-naskah historik perjalanan HMI Kutai Kartanegara.
Salam Hijau Hitam,
Dedi Sudarya.


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda