Jumat, 18 Juni 2021

BAGIAN SEJARAH HMI KUKAR: LK 1 PERTAMA HMI KUKAR

 

kanda ufqil mubin(kiri) kanda sopiar(kanan)

IKTIAR DALAM BALUTAN TANGIS(LK 1 PERTAMA HMI KUKAR)

sumber: kanda ufqil mubin

Setelah mengikuti latihan kader di HMI, Rahmawati, Sopiar, dan Suroto menjadi idola baru di Kampus Ungu itu. Keikutsertaan di HMI banyak mengubah pemikiran mereka. Daya kritis terbentuk karena rasa haus akan nur 'ilm. Mereka menjelma menjadi bintang kampus yang banyak menyorot perhatian mahasiswa dan dosen.
Setelah beranjak dari kampus, ketiga mahasiswa semester awal itu tidak serta-merta pulang ke rumah. Mereka menguras energi untuk memastikan basic training atau latihan dasar HMI yang pertama kali di selenggarakan di Tenggarong.
Rahmawati memiliki tugas yang jauh lebih berat. Ditunjuk menjadi ketua panitia yang merangkap sebagai perekrut peserta, dan menyiapkan seluruh tahapan pembukaan latihan. Ketiganya saling menguatkan dan memompa semangat. Berusaha sekuat tenaga memastikan kegiatan perdana itu tidak menimbulkan kekecewaan peserta dan pembimbing mereka dari HMI Cabang Samarinda.
Tiga tunas baru HMI itu telah berhasil merekrut 21 orang mahasiswa untuk mengikuti basic training. Mereka harus memastikan seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan yang diadakan di Balai Umum Kelurahan Melayu, Danau Murung, Tenggarong. Sejatinya, setiap orang dari ketiganya diminta pengurus cabang untuk merekrut sepuluh peserta. Namun setelah berhari-hari berusaha, mereka hanya mampu merekrut 21 orang. Tetapi usaha keras itu tetap mendapat apresiasi tinggi dari pengurus cabang di Samarinda. Target boleh saja tak tercapai. Tetapi usaha tanpa henti mereka adalah bukti keseriusan mengemban amanah. Maka patut diapresiasi karena mampu menghadirkan puluhan peserta untuk mengikuti kegiatan sebagai prasyarat menjadi anggota HMI itu.
Atas instruksi dari Koordinator Steering Committee, Salamet Said, kegiatan dilaksanakan selama tiga hari. Kebijakan lainnya, supaya tidak mengganggu perkuliahan peserta dan panitia, waktu jam kuliah berlangsung, setiap peserta diperbolehkan tidak mengikuti training. Dengan kesadaran pribadi, peserta kembali ke arena latihan setelah mengakhiri kuliah di kampung Unikarta. Semuanya ikut serta dalam kegiatan itu atas kesadaran ingin mengembangkan diri, mendapat ilmu pengetahuan, serta menimba pengalaman baru dari panitia dan pemateri.
Latihan diadakan sepekan sebelum pemilihan legislatif yang akan diselenggarakan pada 9 Juni 1992. Bersamaan dengan itu, sedang berlangsung masa tenang pemilu. Pemerintah Kabupaten Kutai--sekarang Kutai Kartanegara (Kukar)--melalui Kepala Kantor Sosial dan Politik (Kakansospol), Mahlan, meminta panitia menunda kegiatan.
Masa tenang pemilu mewajibkan setiap warga negara agar tidak mengumpulkan massa. Namun Rahmawati, Sopiar, dan Suroto serta steering committee meyakinkan pemerintah bahwa kegiatan tersebut tidak berkaitan dengan pemilu dan tidak mengganggu keamanan. Dengan berat hati, Mahlan memberikan izin. Bahkan Bupati Kutai Said Sjafran memberikan bantuan berupa uang Rp 200 ribu--uang dengan jumlah besar di tengah kurs rupiah terhadap dolar masih berkisar di angka Rp 2.000 dan harga-harga kebutuhan pokok masih sangat murah.
Namun belakangan, sikap keukeh itu harus dibayar mahal. Setelah kegiatan, panitia mesti memberikan laporan tertulis kepada pemerintah setempat. Di akhir kegiatan, Mahlan memanggil Rahmawati untuk menemuinya di Kansospol. Mantan anggota militer itu meluapkan kemarahannya pada perempuan berjilbab tersebut. Dalam ingatan Sopiar, Rahmawati sempat menitikkan air mata. “Waktu memberikan laporan itu, Rahmawati dimarahi Kakansospol. Namanya perempuan, kalau dibentak itu nangis,” demikian Sopiar berkisah.
Masih segar dalam ingatannya, ketika pembukaan kegiatan berlangsung di kantor kelurahan yang dibangun menggunakan kayu khas lokal itu, listrik tiba-tiba padam. Padahal Rahmawati baru saja membaca sambutan. Suroto dan Sopiar memutar otak, agar pembukaan tetap berjalan lancar, harus ada lampu penerang. Nasib mujur sedang menghampiri panitia. Tidak jauh dari tempat kegiatan, terdapat toko yang menjual lilin. Alhasil malam itu, di tengah riuh para peserta yang mengikuti kegiatan, pembukaan latihan diadakan dengan bantuan penerangan lilin.
Sambil membaca teks sambutan di tangan kanan, Rahmawati memegang lilin di tangan kirinya. Begitu pula pembaca Alquran, Sabran--Rektor Unikarta periode 2013-2017--yang ditunjuk panitia. Sambil melantunkan ayat-ayat suci Tuhan, angin malam secara perlahan “menampar” lilin. Sesekali dia harus membenarkan bacaan disebabkan lilin tidak cukup terang untuk membantunya melantunkan kitab yang dibawa Nabi Muhammad itu.
“Waktu itu pak Mahlan juga ikut dalam kegiatan pembukaan. Beliau diberikan tugas oleh bupati untuk membuka acara. Saat beliau menyampaikan sambutan, lampunya nyala,” kenang Sopiar. Akhirnya, kegiatan berlangsung khidmat hingga penutupan.
Sebanyak 21 orang peserta diambil sumpahnya menjadi anggota HMI. Dengan demikian, Kukar telah membukukan 24 anggota yang mengisi perjalanan sejarah awal organisasi mahasiswa Islam pertama di Tanah Kutai itu. Dari mereka pula, perjuangan membentuk komisariat menemukan momentumnya.
Di mata Rahmawati, Sopiar, dan Suroto, kehadiran puluhan anggota baru itu telah memompa semangat mereka. Kelak dari perjuangan mereka, lahir tunas-tunas pejuang Islam yang akan mengisi percaturan sosial-politik kepemudaan, kemahasiswaan, dan keumatan di Tanah Borneo.
Catatan: Ada yang berpendapat, jumlah peserta di basic training ini hanya 11 orang. Bukan 21 orang sebagaimana pendapat beberapa pelaku sejarah. Dicky Noviar, salah satu peserta kala itu menyebut hanya 11 orang peserta. Antara lain Rina Wardani, juliansyah, Nor’aida, Aidil Fitriani, Dicky Noviar, dan Masriawan. “Tetapi saya lupa satu orang lagi,” demikian Dicky mengoreksi.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda