Jumat, 18 Juni 2021

BAGIAN SEJARAH HMI KUKAR: LK 1 PERTAMA HMI KUKAR

 

kanda ufqil mubin(kiri) kanda sopiar(kanan)

IKTIAR DALAM BALUTAN TANGIS(LK 1 PERTAMA HMI KUKAR)

sumber: kanda ufqil mubin

Setelah mengikuti latihan kader di HMI, Rahmawati, Sopiar, dan Suroto menjadi idola baru di Kampus Ungu itu. Keikutsertaan di HMI banyak mengubah pemikiran mereka. Daya kritis terbentuk karena rasa haus akan nur 'ilm. Mereka menjelma menjadi bintang kampus yang banyak menyorot perhatian mahasiswa dan dosen.
Setelah beranjak dari kampus, ketiga mahasiswa semester awal itu tidak serta-merta pulang ke rumah. Mereka menguras energi untuk memastikan basic training atau latihan dasar HMI yang pertama kali di selenggarakan di Tenggarong.
Rahmawati memiliki tugas yang jauh lebih berat. Ditunjuk menjadi ketua panitia yang merangkap sebagai perekrut peserta, dan menyiapkan seluruh tahapan pembukaan latihan. Ketiganya saling menguatkan dan memompa semangat. Berusaha sekuat tenaga memastikan kegiatan perdana itu tidak menimbulkan kekecewaan peserta dan pembimbing mereka dari HMI Cabang Samarinda.
Tiga tunas baru HMI itu telah berhasil merekrut 21 orang mahasiswa untuk mengikuti basic training. Mereka harus memastikan seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan yang diadakan di Balai Umum Kelurahan Melayu, Danau Murung, Tenggarong. Sejatinya, setiap orang dari ketiganya diminta pengurus cabang untuk merekrut sepuluh peserta. Namun setelah berhari-hari berusaha, mereka hanya mampu merekrut 21 orang. Tetapi usaha keras itu tetap mendapat apresiasi tinggi dari pengurus cabang di Samarinda. Target boleh saja tak tercapai. Tetapi usaha tanpa henti mereka adalah bukti keseriusan mengemban amanah. Maka patut diapresiasi karena mampu menghadirkan puluhan peserta untuk mengikuti kegiatan sebagai prasyarat menjadi anggota HMI itu.
Atas instruksi dari Koordinator Steering Committee, Salamet Said, kegiatan dilaksanakan selama tiga hari. Kebijakan lainnya, supaya tidak mengganggu perkuliahan peserta dan panitia, waktu jam kuliah berlangsung, setiap peserta diperbolehkan tidak mengikuti training. Dengan kesadaran pribadi, peserta kembali ke arena latihan setelah mengakhiri kuliah di kampung Unikarta. Semuanya ikut serta dalam kegiatan itu atas kesadaran ingin mengembangkan diri, mendapat ilmu pengetahuan, serta menimba pengalaman baru dari panitia dan pemateri.
Latihan diadakan sepekan sebelum pemilihan legislatif yang akan diselenggarakan pada 9 Juni 1992. Bersamaan dengan itu, sedang berlangsung masa tenang pemilu. Pemerintah Kabupaten Kutai--sekarang Kutai Kartanegara (Kukar)--melalui Kepala Kantor Sosial dan Politik (Kakansospol), Mahlan, meminta panitia menunda kegiatan.
Masa tenang pemilu mewajibkan setiap warga negara agar tidak mengumpulkan massa. Namun Rahmawati, Sopiar, dan Suroto serta steering committee meyakinkan pemerintah bahwa kegiatan tersebut tidak berkaitan dengan pemilu dan tidak mengganggu keamanan. Dengan berat hati, Mahlan memberikan izin. Bahkan Bupati Kutai Said Sjafran memberikan bantuan berupa uang Rp 200 ribu--uang dengan jumlah besar di tengah kurs rupiah terhadap dolar masih berkisar di angka Rp 2.000 dan harga-harga kebutuhan pokok masih sangat murah.
Namun belakangan, sikap keukeh itu harus dibayar mahal. Setelah kegiatan, panitia mesti memberikan laporan tertulis kepada pemerintah setempat. Di akhir kegiatan, Mahlan memanggil Rahmawati untuk menemuinya di Kansospol. Mantan anggota militer itu meluapkan kemarahannya pada perempuan berjilbab tersebut. Dalam ingatan Sopiar, Rahmawati sempat menitikkan air mata. “Waktu memberikan laporan itu, Rahmawati dimarahi Kakansospol. Namanya perempuan, kalau dibentak itu nangis,” demikian Sopiar berkisah.
Masih segar dalam ingatannya, ketika pembukaan kegiatan berlangsung di kantor kelurahan yang dibangun menggunakan kayu khas lokal itu, listrik tiba-tiba padam. Padahal Rahmawati baru saja membaca sambutan. Suroto dan Sopiar memutar otak, agar pembukaan tetap berjalan lancar, harus ada lampu penerang. Nasib mujur sedang menghampiri panitia. Tidak jauh dari tempat kegiatan, terdapat toko yang menjual lilin. Alhasil malam itu, di tengah riuh para peserta yang mengikuti kegiatan, pembukaan latihan diadakan dengan bantuan penerangan lilin.
Sambil membaca teks sambutan di tangan kanan, Rahmawati memegang lilin di tangan kirinya. Begitu pula pembaca Alquran, Sabran--Rektor Unikarta periode 2013-2017--yang ditunjuk panitia. Sambil melantunkan ayat-ayat suci Tuhan, angin malam secara perlahan “menampar” lilin. Sesekali dia harus membenarkan bacaan disebabkan lilin tidak cukup terang untuk membantunya melantunkan kitab yang dibawa Nabi Muhammad itu.
“Waktu itu pak Mahlan juga ikut dalam kegiatan pembukaan. Beliau diberikan tugas oleh bupati untuk membuka acara. Saat beliau menyampaikan sambutan, lampunya nyala,” kenang Sopiar. Akhirnya, kegiatan berlangsung khidmat hingga penutupan.
Sebanyak 21 orang peserta diambil sumpahnya menjadi anggota HMI. Dengan demikian, Kukar telah membukukan 24 anggota yang mengisi perjalanan sejarah awal organisasi mahasiswa Islam pertama di Tanah Kutai itu. Dari mereka pula, perjuangan membentuk komisariat menemukan momentumnya.
Di mata Rahmawati, Sopiar, dan Suroto, kehadiran puluhan anggota baru itu telah memompa semangat mereka. Kelak dari perjuangan mereka, lahir tunas-tunas pejuang Islam yang akan mengisi percaturan sosial-politik kepemudaan, kemahasiswaan, dan keumatan di Tanah Borneo.
Catatan: Ada yang berpendapat, jumlah peserta di basic training ini hanya 11 orang. Bukan 21 orang sebagaimana pendapat beberapa pelaku sejarah. Dicky Noviar, salah satu peserta kala itu menyebut hanya 11 orang peserta. Antara lain Rina Wardani, juliansyah, Nor’aida, Aidil Fitriani, Dicky Noviar, dan Masriawan. “Tetapi saya lupa satu orang lagi,” demikian Dicky mengoreksi.

AWAL MULA BERDIRINYA HMI KUKAR



AWAL MULA BERDIRINYA HMI CABANG KUKAR

sumber: kanda ufqil mubin

Pada 1990, HMI Cabang Samarinda mencapai tahap perkembangan yang cukup signifikan. Tak heran, terjadi proses kaderisasi yang cukup masif. Khusus rekrutmen anggota lewat latihan dasar (basic training), sebagian besar komisariat berlomba-lomba merekrut peserta dalam jumlah besar.

Sehingga, setiap kali training dilaksanakan, terdapat puluhan peserta yang ikut melahap ilmu pengetahuan dalam latihan dasar sebagai syarat menjadi anggota HMI tersebut.

Di tahun yang sama pula, Komisariat Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda sebagai bagian dari HMI Cabang Samarinda melaksanakan basic training di Dusun Merandai, Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan, Kutai--sekarang Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim).

Salamat Said Sanib mengungapkan, pelaksanaan kaderisasi di lokasi tersebut mempunyai tiga alasan: pertama, sebagai bagian dari panitia, steering committe, Salamet memiliki rumah di Dusun Loa Duri. Karena itu, mudah baginya untuk memobilisasi dan menyiapkan pelaksanaan kegiatan tersebut.

Kedua, pada umumnya kegiatan yang dilaksanakan HMI di tingkat komisariat HMI Cabang Samarinda jarang dilaksanakan di perkotaan. Panitia lebih senang mencari lokasi yang jauh dari perkotaan. Sehingga tidak mengagetkan, kegiatan basic training itu diselenggarakan di Desa Merandai. Wilayah yang jaraknya lebih kurang 15 kilometer dari ibu kota provinsi.

“Kami lebih senang buat acara yang jauh dari pusat kota,” Salamet berkisah, “Kadang kegiatan diadakan di Loa Buah, Palaran, atau Tenggarong Seberang. Dulu kegiatan itu sangat ekonomis. Karena di kampung, panitia tinggal beradaptasi dengan warga sekitar. Panitia dengan mudah mendapatkan sayur-sayuran. Alumni juga ikut membantu. Walaupun besarannya hitungan rupiah, itu sangat membantu. Ada yang membantu beras dan lauk-pauk. Sehingga latihan berjalan atas solidaritas dan kesederhanaan.”

Ketiga, di Dusun Merandai, penduduk muslim tergolong minoritas. Di lokasi tersebut, penduduk lebih banyak menganut agama Kristen--baik Protestan maupun Katholik. Informasi yang didapatkan panitia basic training, pengajaran agama Islam di daerah setempat tidak berjalan maksimal.

Karena dipengaruhi komunikasi lintas agama, dominasi penganut agama Kristen jauh lebih besar dibandingkan pemeluk agama Islam. Pun demikian dengan proses pengajaran, pemahaman, dan pengembangan ajaran di tengah umat, nyaris warga setempat tidak mendapat asupan keilmuan dalam bidang agama Islam.

Lalu bagaimana akhirnya peserta dari Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) dapat ikut serta dalam basic training tersebut? Ekspansi pengkaderan memang sedang berlangsung di HMI Cabang Samarinda kala organisasi itu memasuki usia kematangan sejak dibentuk pada 17 Juli 1963.

Namun demikian, beberapa sumber informasi menyatakan, perluasan rekrutmen di beragam wilayah di Benua Etam--sebutan untuk Kaltim--tidak berarti dengan mudah dilakukan oleh panitia latihan serta pengurus cabang dan komisariat.

Begitu juga dengan rekrutmen anggota yang berasal dari Unikarta. Beberapa kali dilaksanakan basic training, panitia pernah meminta pimpinan universitas, agar mendelegasikan peserta. Namun tak kunjung ada rekomendasi peserta dari universitas yang didirikan pada 1985 tersebut.

Saat HMI Komisariat Tarbiyah Cabang Samarinda memiliki kesempatan untuk menyelenggarakan kegiatan di Dusun Merandai, bermodal keberanian, panitia meminta bantuan dana pada pemerintah Kabupaten Kutai. Kala itu, Kutai dipimpin Said Sjafran. Oleh sang bupati, panitia dibantu pendanaan Rp 500 ribu.

Nilai yang terbilang besar pada tahun 1990. Tidak hanya membantu dari segi keuangan, Pemerintah Kabupaten Kutai juga ikut membuka basic training. Bupati mengutus Kepala Kantor Bidang Sosial Politik (Kakansospol), Mahlan, untuk membuka kegiatan tersebut.

“Latihan dasar waktu itu dilaksanakan di Sekolah Dasar Kutai Baru. Kepala sekolahnya pak Baharuddin. Lokasinya cukup berkualitas. Peserta tidak mudah pulang. Kalau mau pulang, harus nyebrang sungai. Itu tidak mudah. Sehingga peserta yang lebih dari 50 orang itu tidak ada satu pun yang pulang. Semuanya lulus menjadi anggota HMI,” ungkap Salamet, Selasa (14/8/2018)

Pada saat yang bersamaan pula, panitia menyampaikan surat permohonan rekomendasi peserta dari Unikarta. Tak disangka, tiga orang ikut menjadi peserta dalam latihan tersebut.

Mereka adalah Rahmawati, Suroto, dan Sopiar. Peserta yang ikut dalam kegiatan basic training ini mencapai 50 orang. Training diadakan selama empat hari. Mulai Kamis hingga Ahad. Ketiganya lulus dengan predikat yang memuaskan. Sehingga ditasbihkan sebagai anggota HMI Komisariat Persiapan Unikarta.

Sebagaimana umumnya pelaksanaan basic training, kegiatan yang diselenggarakan di Dusun Merandai itu meninggalkan begitu banyak kenangan. Selamat ingat betul, terdapat peserta yang bernama Asgaf--sekarang salah satu lurah di Kota Bontang.

Kala menjadi peserta latihan dasar, Asgaf terjatuh di Sungai Mahakam. Di bagian kakinya terdapat luka. Sehingga memakai tongkat. Satu waktu, pria kelahiran Selili Samarinda itu membuat para panitia dan peserta kaget. Saat di sungai, orang-orang mengira dia tidak dapat berenang. Namun ternyata Asgaf membuktikan dapat berenang dan selamat dari maut.

Dari proses rekrutmen dan kaderisasi yang sederhana itu pula lahir begitu banyak kader yang menopang pengembangan himpunan. Rahmawati, Soroto, dan Sopiar adalah sedikit dari kader-kader berkualitas yang meniti karir di HMI.

Ketiganya saling menopang dengan kaki, tangan, dan jiwa untuk membesarkan HMI Komisariat Persiapan Unikarta. Dari ketiganya pula, hingga saat ini, organisasi yang menghimpun mahasiswa muslim dari beragam status sosial, budaya, dan ekonomi itu dikader, dididik, dan ditata mentalitasnya.


Kamis, 17 Juni 2021

BAGIAN SEJARAH HMI KUKAR: HMI DI TUDUH UNDERBOW PARTAI POLITIK

 


sumber: kanda ufqil mubin

HMI DI TUDUH UNDERBOW PARTAI POLITIK

Pemilihan umum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) pada 9 Juni 1992 telah menempatkan Golongan Karya (Golkar) pada puncak kekuasaan di parlemen. Dari 400 kursi yang diperebutkan, sebanyak 282 di antaranya diraih organisasi pendukung Soeharto itu. Sedangkan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hanya meraih 62 kursi dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) berada di urutan terbawah dengan perolehan 56 kursi. Alhasil, kekuasaan di legislatif dikendalikan Golkar. Secara otomatis pula, pemilihan presiden yang diadakan di parlemen dapat dengan mudah dimenangkan Soeharto. Maka tidak heran, selama 32 tahun berkuasa, Pemilu 1992 adalah masa-masa keemasan kekuasaan mantan jendral TNI itu.
Dalam beragam catatan sejarah disebutkan bahwa Soeharto telah membangun kekuasaan absolut dengan menggunakan tameng demokrasi. Di eksekutif, legislatif, dan yudikatif, cakar-cakar kekuasaan dari penguasa Indonesia kelahiran 8 Juni 1921 itu telah menyentuh sampai level terbawah. Di tingkat eksekutif, mayoritas kepala desa tunduk di bawah kuasa Golkar. Orang-orang yang secara terang-terangan berseberangan dengan Soeharto dianggap sebagai musuh yang tak sedikit diberangus dengan kekerasan dan pembunuhan. Kekuasaan jendral yang populer dengan sebutan the smiling general itu tidak hanya dibangun melalui sistem, tetapi juga dibentuk dengan simbol, kesenian, hingga kebudayaan. Sejak 1965 hingga 1997, nyaris tidak ada satu pun di negeri ini yang luput dari kekuasaannya.
Pada 1993, empat tahun sebelum presiden yang menggantikan Sukarno itu jatuh dari tampuk kekuasaannya, lini kehidupan sosial-politik-budaya-pendidikan telah dicengkeram kaki-tangannya. Tak mengagetkan pula, Budiman Sujatmiko dalam buku Anak-Anak Revolusi yang ditulisnya, power yang dibangun Soeharto selama 32 tahun membentuk dirinya sebagai penguasa absolut yang mengatur seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tak terkecuali pula di kampus. Tidak sedikit tokoh-tokoh kampus yang berafiliasi secara langsung atau tidak langsung dengan presiden yang meninggal pada 27 Januari 2008 itu. Kampus-kampus besar seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, hingga Institut Teknologi Bandung menjadi medan produksi tokoh yang menopang kekuasaannya. Kampus di luar Jawa juga tidak lepas dari jangkauan kekuasaan dari anak Sukirah dan Kertosudiro itu. Pendiri HMI Kukar, Sopiar menyebut, pada 1992 di Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) terdapat pejabat, dosen, dan mahasiswa yang berafiliasi dengan Golkar.
“Kampus Unikarta itu memang pada awalnya didirikan oleh orang-orang Golkar,” ungkap Sopiar, “Waktu itu di kampus ada organisasi Kosgoro (Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong). Itu organisasi masyarakat underbow-nya Golkar. Kalau di kampus, ada namanya Gema (Gerakan Mahasiswa) Kosgoro. Warna bendera mereka kuning. Tiba-tiba ada organisasi yang memiliki bendera hijau hitam, dipersepsikan sebagai organisasi yang berafiliasi dengan PPP.”
Kehadiran HMI di Kampus Ungu itu dianggap berlawanan dengan misi Golkar yang ingin menguasai kampus melalui Gema Kosgoro. Pentolan organisasi di bawah naungan Golkar itu menganggap HMI sebagai kepanjangan tangan dari PPP. Para tokoh HMI di awal pendiriannya seperti Suroto dan Sopiar pernah dipanggil Pembantu Rektor III Unikarta, Galib. Pemanggilan tersebut dilakukan setelah pejabat kampus itu mendapat laporan bahwa HMI memiliki hubungan keorganisasian dengan PPP.
“Beliau memanggil kami berdua. Mempertanyakan apa itu HMI. Di antara pertanyaan beliau, apakah HMI itu bagian dari PPP? Karena mereka agak sedikit apriori dengan PPP. Warna bendera HMI itu hijau hitam. Jadi dikonotasikan berkaitan dengan PPP,” kenang Sopiar.
Kedua tokoh HMI itu berhasil meyakinkan insinyur di bidang pertanian tersebut. Keyakinan bahwa HMI tidak berafiliasi dengan partai berlambang ka’bah itu muncul setelah Sopiar dan Suroto menyerahkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi mahasiswa berbasis Islam yang didirikan pada 5 Februari 1947 itu.
“Kami berhasil menjelaskan bahwa HMI itu betul-betul organisasi mahasiswa yang independen. Tidak berafiliasi dengan salah satu partai politik. Walaupun warna bendera organisasi hijau hitam, bukan berarti itu memiliki keterkaitan dengan PPP. Kalau bapak tidak percaya, nanti kami buktikan dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi kami,” demikian Sopiar mengisahkan momen pertemuan dengan Ir. Galib.
Meski berhasil meyakinkan pembantu rektor di bagian kemahasiswaan itu, kader-kader HMI masih terus mendapat penolakan dari Gema Kosgoro. Penyebabnya, timbul rasa iri dari pentolan organisasi sayap Golkar itu dalam rekrutmen mahasiswa. HMI dianggap telah merebut mahasiswa-mahasiswa potensial. Selain itu, masifnya pergerakan kader-kader hijau hitam di generasi awal membuat sebagian pengurus Gema Kosgoro ikut serta dalam basic training dan menjadi bagian dari pengurus organisasi yang didirikan Lafran Pane itu.
Marwan, Ika Tatiana, dan Dedi Sudarya adalah sebagian dari kader Gema Kosgoro yang akhirnya memilih menyeberang ke HMI. Karena itu pula secara perlahan, peran HMI mulai menggeliat di kampus. Dari segi strategi pengembangan organisasi, Rahmawati, Sopiar, dan Suroto tidak pernah mengambil sikap perlawanan dari sekian banyak upaya pengurus Gema Kosgoro yang ingin menjatuhkan HMI. Justru sebaliknya, HMI berusaha membangun relasi positif dengan tokoh-tokoh organisasi sayap Golkar yang didirikan pada 10 November 1957 itu.
Salah satu kelemahan mendasar Gema Kosgoro adalah tidak melakukan perkaderan. Sehingga sebagian besar pengurusnya tergolong mahasiswa semester akhir. Tidak ada penyegaran di tubuh organisasi dengan cara menghadirkan generasi baru dari kalangan mahasiswa. Celah tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh kader-kader HMI untuk melebarkan sayap di beragam fakultas di Unikarta.
“Kaderisasi Gema Kosgoro di kampus itu sangat lemah. Mereka tidak membentuk komisariat-komisariat di fakultas. Kalau HMI itu ada komisariat-komisariat yang mewakili fakultas. Tetapi kami tidak mau bertentangan dengan mereka. Kami tetap berteman. Pelan-pelan mereka mengerti bahwa HMI hanya organisasi perkaderan,” beber Sopiar.
Pada 1993 hingga 1994, HMI dan Gema Kosgoro sudah layaknya saudara. Tidak ada lagi friksi bak di awal-awal kemunculan HMI pada 1991. Bahkan tali persaudaraan HMI dengan pentolan organisasi itu semakin menguat dengan munculnya dukungan dari tokoh-tokoh sentral Gema Kosgoro. Para dosen yang awalnya tidak simpatik dengan kehadiran HMI mulai membuka diri dan memberikan panggung pengkaderan pada organisasi yang menghimpun mahasiswa Islam itu.
Hal itu terjadi karena beberapa alasan. Pertama, intensitas kegiatan keislaman dan kemahasiswaan HMI di kampus. Rahmawati, Sopiar, dan Suroto acap kali menggunakan momentum salat dzuhur berjemaah untuk membangun persaudaraan dan memperlihatkan spirit keislaman di kalangan mahasiswa.
Kedua, dukungan alumni seperti Aswin dan Arifin Mas’ud. Dosen yang berasal dari alumnus HMI tersebut secara terang-terangan mendukung pergerakan kader-kader organisasi berlambang hijau hitam tersebut. Bahkan membuka celah perekrutan mahasiswa baru di sejumlah fakultas di Unikarta.
Ketiga, para kader dan pendiri HMI Cabang Kukar waktu masih menjadi Komisariat Unikarta, kerap menggunakan momentum hari-hari besar Islam untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan. Beberapa kali diadakan peringatan maulid Nabi Muhammad Saw di sejumlah masjid di Kota Tenggarong, kader-kader HMI ikut menjadi panitia dan membantu menyiapkan kegiatan.
Ketiga, membangun tradisi membaca dan diskusi. Masih lekat dalam ingatan Sopiar, papan tulis di markas HMI di kediaman Suroto di Jalan Imam Bonjol Tenggarong, jarang dibersihkan karena acap kali ada presentasi dan diskusi harian. Setiap ada buku baru yang dibeli oleh kader, dibedah dan dibahas secara bersama-sama di sekretariat komisariat. Tradisi tersebut membentuk kekayaan khasanah keilmuan dalam diri kader HMI. Imbasnya, mahasiswa yang tergabung di organisasi yang didirikan di Yogyakarta itu memiliki kekhasan tersendiri di kalangan mahasiswa di Unikarta.
Beragam keunggulan tersebut membuka jalan bagi kader-kader HMI untuk terus mengembangkan sayap keorganisasian. Dalam tempo dua tahun, telah berdiri HMI Komisariat Fakultas Pertanian, Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Komisariat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Pada 1993 terbentuk Koordinator Komisariat (Korkom) Unikarta yang membawahi tiga komisariat tersebut. Secara perlahan, dalam kurun waktu tiga tahun, HMI berubah menjadi sentral pergerakan mahasiswa yang kelak menjadi wadah terciptanya benih-benih perlawanan terhadap Soeharto.

klarifikasi oleh kanda nala arung/dedi sudarya:

Pada paragraf 11 tulisan diatas, terdapat keterangan bahwa Dedi Sudarya merupakan kader Gema Kosgoro yang berpindah ke HMI.
Berdasarkan keterangan tsb saya sampaikan klarifikasi bahwa saya tidak pernah terdaftar/
mendaftarkan diri menjadi salah satu kader Gema Kosgoro bahkan hingga saat ini. Saya terdaftar sebagai mahasiswa Fak. Ekonomi Unikarta tahun 1994 dan bergabung di Basic Training Komisariat Ekonomi HMI tahun 1996. Sebelum itu, saya tidak pernah bergabung dengan organisasi mahasiswa/sosial politik manapun. HMI adalah organisasi pertama yang saya masuki setelah masuk kuliah.
Adapun keterlibatan saya dengan organisasi sosial politik diluar HMI baru berlangsung pada tahun 2003, ketika dipilih menjadi Ketua Umum AMPG Kukar, yaitu 2 tahun setelah menyelesaikan tugas selaku Ketua Umum HMI Cab. Tenggarong.
Sejauh yang bisa saya ingat, hanya Bang
Marwan  yang sering mengikuti kegiatan Gema Kosgoro pada saat itu. Saya tidak bisa memastikan apakah beliau merupakan anggota terdaftar dari organisasi Kosgoro, yang jelas seragam Gema Kosgoro milik beliau dulu sering diletakkan di lemari pakaian HMI Cabang. Bisa dimaklumi, karena Bang Marwan mungkin tengah memperdalam ilmu manajemen keorganisasian kepada Bang Ibran Nuryadi, alumni HMI yang saat itu menjadi salah satu pengurus Kosgoro.
Demikian klarifikasi ini disampaikan agar tidak terjadi distorsi faktual dalam naskah-naskah historik perjalanan HMI Kutai Kartanegara.
Salam Hijau Hitam,
Dedi Sudarya.